Skip navigation

Catatan: Tulisan ini merupakan tugas kuliah saya, yang saya masukkan hanya untuk berbagi. Tesis yang ada pada bagian akhir seharusnya diarahkan kepada “Thesis Statement“, bukan tesis akademis. Hal ini tidak diubah pada post ini untuk menjaga keaslian dan kemurnian tulisan.

AbstrakTulisan ini merupakan sebuah perenungan mengenai filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Bahasan dimulai dari sejarah perkembangan manusia dan perenungan bagaimana dan kenapa filsafat dilahirkan. Keterkaitan antara filsafat dan teknologi juga dijelaskan secara rinci, untuk memperlihatkan apa tujuan dari ilmu pengetahuan dan apa tujuan dari teknologi. Perbedaan antara masalah dan persoalan juga dijelaskan secara gamblang, karena tujuan dari filsafat serta iptek tidak jauh dari definisi kedua hal tersebut. Bahasan terakhir ialah bagaimana perkembangan filsafat dan iptek pada dunia modern dibandingkan dengan masa awal kelahirannya.

Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki fisik yang lemah jika dibandingkan dengan spesies lain yang ada di Bumi. Manusia tidak memiliki senjata alami yang terintegrasi dengan tubuhnya. Harimau memiliki cakar dan taring yang sangat mematikan. Ular memiliki bisa yang beracun. Gading seekor gajah dapat mencabik-cabik tubuh mangsanya dengan mudah. Hal yang sangat menarik adalah, meskipun tidak didukung dengan senjata secara alami dalam tubuhnya, manusia tetap dapat berhasil mencapai puncak rantai makanan. Mengapa?

Terdapat dua alasan utama dibalik keberhasilan manusia dalam mencapai puncak rantai makanan: kemampuan reproduksi manusia yang sangat baik (dan cepat), serta inteligensi manusia yang sangat tinggi. Kemampuan reproduksi jelas memberikan keuntungan jumlah kepada manusia, sehingga manusia dapat beramai-ramai berburu predator lainnya dalam alam. Jumlah yang besar tentunya akan berdampak pada potensi keberhasilan sebuah perburuan. Tetapi hal yang lebih penting ialah inteligensi manusia, yang melahirkan berbagai hal seperti senjata, strategi, dan kultur. Kemampuan berpikir manusia inilah yang pada akhirnya membawa manusia kepada kejayaan yang sedang dinikmati manusia sekarang. Puncak rantai makanan dan penguasa dunia.

Tulisan ini akan membahas aspek pikiran manusia, utamanya pada aspek berpikir manusia modern yang menghasilkan renaisans ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang sedang dialami.

Flsafat: Sejarah dan Definisi

Salah satu kelebihan utama dari inteligensi manusia ialah kemampuan observasi dan inovasi yang tidak tertandingi. Kemampuan inovasi manusia sudah terlihat dari awal masa evolusi manusia (pada zaman manusia purba). Batu keras dan menyakitkan ketika ditendang. Pukulkan batu ke kepala lawan dan menang. Taring berbahaya karena tajam. Asah batu agar tajam sehingga dapat mengoyak daging buruan. Buruan dapat bergerak lebih cepat, lincah, dan memiliki jarak serang yang lebih besar. Pasangkan batu ke kayu untuk dilemparkan atau menambahkan jarak serang. Jiwa inovasi yang dimiliki manusia secara alami seperti ini merupakan faktor utama manusia mencapai puncak rantai makanan.

Tetapi mencapai puncak rantai makanan tidak sama dengan penguasaan dunia yang dicapai manusia modern. Beruang berada di puncak rantai makanan, tetapi tidak menguasai dunia. Hal yang sama terjadi pada harimau, serigala, elang, dan bahkan buaya. Penguasaan dunia selain memerlukan tempat di puncak rantai makanan juga memerlukan kemampuan komunikasi dan koordinasi yang sangat luar biasa. Diperlukan kemampuan komunikasi untuk menjelaskan dan memahami masalah-masalah yang kompleks. Juga diperlukan kemampuan saling membantu dan bersatu dalam mencapai tujuan yang sama. Kemampuan observasi manusia yang tidak tertandingi pada akhirnya melahirkan alat bagi manusia untuk mencapai tujuan tersebut: bahasa.

Kemampuan berbahasa manusia membuka kemungkinan bagi manusia untuk berkomunikasi dengan baik satu sama lain. Komunikasi memudahkan koordinasi. Koordinasi yang baik menghasilkan keteraturan. Pria berburu sementara wanita menjaga tempat tinggal dan merawat anak-anak. Perpindahan tempat tinggal dilakukan bersama-sama untuk memudahkan penaklukan daerah baru. Kepala suku membagi-bagikan tugas kepada anggota suku agar pekerjaan berjalan dengan efisien. Pada akhirnya, kemampuan komunikasi manusia menghasilkan kultur (peradaban). Kemampuan reproduksi manusia dikombinasikan dengan peradaban yang terbangun menyebabkan jumlah populasi yang ada dalam sebuah peradaban menjadi sangat besar. Besarnya populasi sebuah peradaban menyebabkan cara hidup nomaden (berpindah-pindah) menjadi tidak praktis. Manusia akhirnya berhenti menjalani hidup nomaden dan tinggal permanen pada satu tempat tertentu.

Bertempat tinggal permanen menyebabkan manusia dapat memikirkan banyak hal baru, seperti fenomena-fenomena kehidupan dan lingkungan, pemikiran kritis manusia secara luas, dan berbagai hal mendasar lainnya. Penjabaran hal-hal tersebut dalam bentuk konsep dasar merupakan apa yang dikenal dunia modern sebagai filsafat. Filsafat berbicara mengenai banyak hal, mulai dari eksistensi, pengetahuan, nilai kehidupan, sebab-akibat, pikiran, sampai ke bahasa. Filsafat sendiri berasal dari bahasa Yunani philosophia yang berarti “cinta akan kebijaksanaan”. Seorang filusuf sejati tidak pernah lelah dan berhenti mencari kebenaran.

Filsafat dan Iptek

Pilar utama pembangun filsafat ialah pemikiran kritis dan rasional. Filsafat tidak hanya mencari ide-ide baru, tetapi juga melakukan analisa dan pengujian terhadap buah pemikiran baru tersebut. Selalu terdapat kontroversi antara dua filusuf dengan pandangan yang berbeda pada setiap zaman. Anselm dari Canterbury dan Gaunilo dari Marmoutiers, Bertrand Russell dan Kurt Gdel, Ren Descartes dan Blaise Pascal, Leonhard Euler dengan Daniel Bernoulli dan Gottfried Leibniz dengan Christian Wolff, Bishop Berkeley dan Samuel Johnson, Immanuel Kant dan David Hume, dan lainnya. Hal ini bukan berarti filsafat memiliki kecintaan akan kontroversi. Pemikiran kritis dan rasional akan melahirkan analisa dan pengujian yang baik. Setiap analisa dan pengujian akan melahirkan pihak yang mengajukan klaim dan oposisinya. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kontroversi pada sejarah filsafat.

Filsafat mengamati fenomena. Fenomena merupakan segala sesuatu yang dapat dilihat, dialami, atau dirasakan. Sebuah fenomena bersifat netral, maksudnya adalah sebuah fenomena terjadi secara alami, dan terjadi tanpa menguntungkan atau merugikan siapapun. Fenomena juga dapat bersifat tidak dikehendaki, terjadi di luar pola yang ada dan biasanya memihak, dalam artian memberikan keuntungan bagi satu pihak dan memberikan kerugian bagi pihak lainnya. Fenomena yang bersifat netral disebut sebagai masalah, dan fenomena yang tidak netral disebut persoalan. Masalah merupakan sesuatu yang dipelajari untuk dimengerti penyebab dan cara kerjanya. Persoalan merupakan sesuatu yang tidak dikehendaki, karenanya dipelajari untuk dicari penyelesaiannya. Contoh dari sebuah masalah ialah keberadaan sebuah sungai, atau fenomena hujan. Sedangkan contoh dari persoalan misalnya banjir yang dapat disebabkan oleh meluapnya sungai. Perhatikan bagiamana dalam contoh yang diberikan, sebuah masalah (sungai) dapat berubah menjadi sebuah persoalan (banjir)!

Filsafat pada perkembangannya akan menghasilkan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan pada perkembangannya akan menghasilkan teknologi. Ilmu bersifat pasteritori, yakni kesimpulan ditarik setelah dilakukan pengujian berulang. Filsafat, di lain pihak, bersifat priori, yaitu kesimpulan ditarik berdasarkan pemikiran dan perenungan, bukan pengujian berulang. Filsafat merangsang kelahiran keinginan untuk observasi dan eksperimen karena proses berpikirnya yang kritis dan rasional. Observasi mendalam dan eksperimen berulang akhirnya akan menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ketika seorang filusuf merenungkan dan mendalami sebuah masalah, maka ia menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan baru untuk menjelaskan sebab-akibat dari sebuah masalah. Hal ini jugalah yang menyebabkan hampir semua filusuf awal juga merangkap sebagai ilmuwan. Misalnya: Plato, Aristotle, dan Pythagoras. Pada perkembangan lebih lanjut, filusuf yang merangkap ilmuwan jarang ditemui karena perkembangan ilmu filsafat pada tingkat praktis dikalahkan oleh perkembangan iptek pada tingkat praktis.

Ketika seorang filusuf merenungkan dan mendalami sebuah persoalan, maka ia akan menghasilkan sebuah teknologi baru untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Teknologi umumnya memanfaatkan (menerapkan) ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam dunia pendidikan modern, pengembangan teknologi bahkan memiliki cabang ilmunya sendiri, yaitu Rekayasa (Engineering). Perkembangan teknologi manusia sudah bermula dari zaman purba, ketika sebuah batu dan kayu diikatkan untuk menjadi tombak atau ketika roda diciptakan untuk mempermudah perpindahan tempat tinggal manusia. Teknologi biasanya dimanfaatkan untuk memudahkan manusia dalam pengaturan dan adaptasi terhadap lingkungan. Secara sederhana, teknologi dapat didefinisikan sebagai pengembangan dan pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan, perangkat, teknik, sistem, atau metode untuk menyelesaikan sebuah masalah tertentu.

Perkembangan Filsafat dan Iptek pada Dunia Modern

Pada masa awal kelahirannya, filsafat dan iptek diajarkan dengan cara diskusi terbuka, baik yang sifatnya personal (antar dua orang) atau berkelompok. Transfer ilmu dilakukan melalui ceramah oleh para filusuf atau guru yang telah memiliki reputasi. Pada masa ini sampai ke masa awal pengembangan penulisan, pembelajaran masih tidak dilakukan secara sistematik. Pada perkembangan selanjutnya (di dunia pendidikan modern, yang dimulai sekitar 1000 tahun yang lalu) pendidikan baru dilakukan secara sistemik.

Dalam dunia modern, pendidikan atau transfer ilmu pengetahuan maupun metode pemikiran dilakukan pada sebuah institusi khusus, yaitu institusi pendidikan. Transfer ilmu dilakukan secara lisan maupun tulisan. Pembelajaran dasar-dasar ilmu yang telah terbukti dan teruji dilakukan pada institusi pendidikan dasar (di Indonesia: SD, SMP, SMA). Pendidikan lanjutan dan penelitian (pencarian pengetahuan baru) dilakukan pada institusi perguruan tinggi (Universitas). Sebuah perguruan tinggi memberikan gelar akademis, yang berarti perguruan tinggi tersebut memberikan pengakuan bahwa orang yang bergelar akademis dalam suatu bidang telah mendapatkan pendidikan yang memadai dalam bidang tersebut, dan bahkan mungkin telah berkontribusi kepada bidang ilmu tersebut. Gelar Sarjana diberikan kepada orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi (mahasiswa) dan telah dianggap menguasai sebuah bidang ilmu. Gelar Master dan Doktor diberikan kepada mahasiswa yang telah memberikan kontribusi dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Seorang dengan gelar Master telah melakukan penelitian dan ujicoba penerapan teori lama pada lingkungan baru, sedangkan seorang Doktor biasanya telah mengembangkan teori baru untuk bidang ilmunya.

Tesis merupakan sebuah dokumen resmi yang dikumpulkan kepada perguruan tinggi untuk mendapatkan gelar Master. Sebuah Tesis berisi hasil penelitian dan penemuan dari penulisnya. Tesis dan Disertasi merupakan buah pemikiran dari mahasiswa maupun akademisi lainnya yang merupakan ujung tombak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada dunia modern. Dapat dikatakan bahwa Tesis dan Disertasi merupakan hal yang setara dengan tulisan, argumen, maupun catatan eksperimen pada generasi filsafat dan keilmuwan dahulu (seperti Plato dan Aristotle).

Kesimpulan

Filsafat merupakan buah dari pemikiran manusia, yang didasarkan pada perenungan terhadap fenomena yang terjadi disekitarnya. Filsafat merenungkan fenomena netral (masalah) maupun fenomena tidak netral (persoalan). Dalam perkembangannya, filsafat menghasilkan ilmu pengetahuan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan tertentu menghasilkan teknologi. Pada perkembangan awal, seorang filusuf kerap juga menjadi seorang ilmuwan karena kedekatan antara filsafat dan iptek. Tetapi pada masa modern, di mana ilmu pengetahuan telah jauh lebih berkembang dari filsafat dalam pengunaan praktis, sudah jarang terlihat seorang filusuf yang juga sekaligus seorang ilmuwan. Cara menuntut ilmu juga berubah dari pembelajaran otodidak dan diskusi menjadi model pembelajaran pada institusi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada dunia modern didorong oleh publikasi hasil penelitian dan penemuan para akademisi, yang dibuat dalam bentuk Tesis atau disertasi.

Referensi

[1] StackExchange Community What is Philosophy?, available at http://philosophy.stackexchange.com/questions/41/what-is-philosophy Jun. 2011. 07 Feb. 2012.
[2] StackExchange Community Does Philosophy Belong to Empirical Science or Formal Science?, available at http://philosophy.stackexchange.com/questions/527/does-philosophy-belong-to-empirical-science-or-formal-science Jun. 2011. 08 Feb 2012.
[3] Stanford SEP Philosophy of Technology, available at http://plato.stanford.edu/entries/technology/ Jun. 2009. 07 Feb. 2012.
[4] Saswiandi Sasmojo Science, Teknologi, Masyarakat, dan Pembangunan Bab II, Penerbit ITB, Bandung, 2005.
[5] Slamet Ibrahim, Filsafat Ilmu Pengetahuan Catatan Kuliah, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2008

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: